Secarik Kertas untuk Musuhmu

Ini adalah kisah saat upacara pemakaman. Di sebuah upacara pemakaman janda almarhum naik kepodium untukmemberikan pesan terakhir kepada almarhum. la mengambil secarik kertas, potongan kertas tua. la mengatakan bahwa suaminya telah menyimpan potongan kertas itu dan membawanya ke mana-mana sejak suaminya masih berada di bangku sekolah. Dan setiap kali suaminya itu merasa kesal atau marah, ia akan mengambil kertas ini, melihatnya, dan kertas ini membuat seluruh pemikiran negatifnya hilang. la berkata bahwa suaminya menceritakan kepadanya dari mana potongan kertas ini berasal.

la mengatakan, saat suaminya dahulu masuk di SMU, di kelas khusus putra, ada pertengkaran yang menjadi begitu buruknya hingga perkelahian bisa terjadi di dalam kelas. Guru kelas itu kemudian memerintahkan semua orang untuk duduk dan mengambil selembar kertas dari buku catatan mereka. Di bagian tengah kertas itu ditarikgaris vertikal ke bawah sehingga membagi kertas itu menjadi kolom kiri dan kanan. Di bagian paling atas kertas itu mereka harus menulis nama anak yang paling mereka benci di kelas itu, yang benar-benar mengesalkan. Taruh nama mereka di paling atas, lalu di koiom sebelah kiri tuliskan mengapa mereka itu demikian mengesalkan. Anak-anak itu jelas menulis dengan sangat lancar dan mudah. Nah, sampai di sebelah kanan, sekarang mereka harus menuliskan sesuatu yang mereka hargai dan kagumi mengenai orang itu!

“Tidak mungkin, Bu Guru!” protes mereka. Guru mereka menegaskan, “Tulis!” Dan butuh waktu yang lama bagi mereka untuk menuliskan sesuatu di kolom sebelah kanan kertas itu. Hal-hal yang mereka kagumi dalam diri orang yang membuat mereka marah, namun ketika mereka telah mengisi sisi sebelah kanan, guru itu menyuruh mereka melipat kertas itu di bagian tengah’ tepat di garis pemisah itu. Lalu robek dengan hati-hati sepanjang garis itu.

“Saya akan berkeliiing sambil membawa tempat sampah untuk mengumpulkan bagian sebelah kiri yang berisi semua hal yang kalian benci dari musuh kalian. Sedangkan bagian kanan, mengenai sifat yang kalian kagumi dari musuh kalian, berdiri dan serahkan kepada mereka.”

Lalu istri almarhum itu mengatakan, “Inilah potongan kertas yang diberikan musuh suami saya kepadanya. Kertas dengan namanya di atas dan semua hal yang dikagumi musuhnya dalam dirinya.” Dan ia berkata, “Wow! Jika musuhku saja bisa memikirkan hal-hal luar biasa ini pada diriku, mungkin aku bisa memikirkan hal baik mengenai orang-orang yang kubenci. Mungkin aku bisa melihat sisi lain dari garis vertikal itu dalam diri saya.”

Pada akhir pidatonya, tiga atau empat orang berdiri mereka adalah mantan teman sekelas almarhum dan mereka mengeluarkan potongan kertas yang sama. Mereka juga menyimpannya. Sungguh berarti, mengetahui bahwa musuh Anda bisa melihat Anda, dan melihat sesuatu yang indah di sana.

[ dari buku Ajahn Brahm ]

Harmanto H <topmdi@yahoo.com>

WordPress Themes